Tugas ilmu sosial dasar

NAMA : INDRI APRIYANI
NPM : 13112719
KELAS: 1KA17
JURUSAN : SISTEM INFORMASI
KAMPUS GUNADARMA,DEPOK KELAS PAGI
TUGAS ILMU SOSIAL
TAWURAN PELAJAR MEMPRIHATINKAN DUNIA PENDIDIKAN

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.
Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN PELAJAR
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
Oleh :
Sander Diki Zulkarnaen, M.Psi

OPINI
Opini saya mengenai bahwa tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan adalah bahwasanya yang namanya pelajar itu pasti berkaitan erat dengan yang namanya dunia pendidikan. Yang namanya pelajar kewajiban utamanya ya belajar,bukan malah tawuran hanya karna sebuah permasalahan yang sepele,terus di lampiaskan dengan cara kekerasan atau tawuran. Apalagi kalau sampai pas pada saat tawuran itu pelajar masih mengenakan seragam sekolahnya, tentu itu akan sangat memalukan dan mencoreng nama baik sekolah yang bersangkutan.
Sebenarnya apa sih untungnya tawuran?
Apa ada manfaatnya untuk diri sendiri dan orang lain?
Seharusnya para pelajar yang ikut dalam aksi tawuran dapt mengetahui dampak yang akan di timbualkan,baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar.
Misalkan dampak tawuran untuk diri sendiri adalah apabila kita terkena senjata tajam atau lemparan batu dari lawan.
Sedangkan dampaknya untuk keluarga adalah apabila kita terkena senjata tajam bahkan sampai meninggal, kasian orang tua yang telah mengeluarkan banyak biaya untuk pendididkan anaknya akhirnya terbuang sia-sia.
Sedangkan untuk masyarakat sekitar, adalah rusakanya fasilitas umum atau bahkan aksi tawuran yang di lakukan para pelajar dapat menimbulkan keresahan untuk masyarakat sekitar.
Pendapat saya, alangkah baiknya kalau di setiap sekolah itu pelajaran agama dan moral supaya lebih sering di ajarkan lagi pada setiap siswanya.
Harusnya para pelajar Indonesia juga harus lebih memahami ideology bangsa ini itu adalah ideology pancasila.Negara kita itu bukanlah negara yang anarkis, yang selalu menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan melainkan Negara kita adalah Negara yang harusnya selalu menyelesaikan maslah dengan jalan musyawarah dan mufakat.
Dari tahun ke tahun aksi anarkis para pelajar dan mahasiswa bukanya menurun malah semakin meningkat. Dan harusnya pemerintah itu bisa mengatasi permasalahan seperti ini,karna ini bukanlah masalah kecil lagi melainkan ini sudah masalah besar karna pada setiap aksinya selalu ada saja nyawa yang hilang sia-sia hanya karena masalah sepele yang masih bisa di selesaikan dengan jalan musyawarah.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari permasalahan di atas adalah bahwasanya masalah tawuran para pelajar masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan.Banyaknya faktor internal maupun eksternal yang dapat memicu adanya tawuran pelajar hendaknya bisa secepatnya di atasi. Dalam hal ini harus ada kerjasama antara orang tua dan pendidikan. Bukan hanya itu saja tapi lingkungan juga termasuk salah satu yang dapat memicu aksi tawuran pelajar.Intinya sih para pelajar itu kurang mendapatkan pandidikan agama dan moral di sekolahnya maupun keluarga yang tidak harmonis.Yang harusnya dunia pendidikan itu menjadi wadah untuk mencapai kesusksesan bagi setiap orang yang mengenyamnya.

Iklan

Karena Tawuran, IPA-IPS Dihapus?

Tawuran: Kemana Pendidikan Mengarah
28 Sep

image

Berapa hari ini, berita pendidikan diwarnai dengan kabar tawuran antar pelajar sekolah menengah. Tak tanggung – tangggung korban jiwa melayang sia – sia. bahkan, pelajar sekolah yang notabene dianggap sebagai sekolah favorit melakukan penyerangan terhadap sekolah di sekitarnya hingga menimbulkan korban jiwa.

Pertanyaan mendasar seputar pendidikan kembali menyeruak ke permukaan, adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apakah sistem pendidikan yang ada sekarang hanya mencetak dan melahirkan “preman – preman” berbalut kepintaran akademis semata?

Sejak lama, bahkan hingga menteri pendidikan berganti, departemen pendidikan berganti nama sekalipun, pertanyaan tadi masih menggelayut di benak setiap orang di negeri ini yang mencermati dan berharap dari pendidikan akan lahir generasi – generasi muda yang kelak akan memikul beban berat bangsa ini.

Mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana hingga ujian, seakan pendidikan selalu dibelit problematika yang kenal ujung pangkal.

Guru, sebagai garda terdepan pendidikan, dimana saat ini dituntut untuk melakukan sertifikasi, di beberapa daerah sempat menemui hambatan. Bahkan dari pihak pengajar sendiri.

Mungkin kita letih jika dibandingkan dengan Jepang, Korea atau Cina. Terlalu sering kita dibandingkan bagaimana Jepang yang terpuruk setelah PD II mampu bangkit kembali setelah bersusah payah membangun sistem pendidikannya. Begitu juga Korea Selatan. Pun, demikian juga Cina. Setelah sekian lama terkungkung dengan ideoligi komunisnya yang menutup diri dari perkembangan dunia luar, sekarang Cina mampu melejit dan sejajar dengan negara – negara lain yang telah lebih dulu maju di kawasan Asia.

Lalu, dimana posisi kita? Indeks pembangunan manusia kita yang masih tersungkur di papan bawah seakan menjadi cerminan, betapa pendidikan hanyalah sebuah sektor yang dipandang sebelah mata jika dibandingkan pembangunan infrastruktur yang langsung terlihat hasilnya.

Pendidikan bukanlah pembangunan sekejap yang langsung terasa hasilnya laksana pembangunan Candi Prambanan yang jadi hanya dalam semalam melainkan sebuah proses panjang yang menutut komitmen dari semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang amanat konstitusi, guru sebagai garis depan, serta tak kalah pentingnya, peran dari masyarakat dan orang tua dalam menyiapkan “bahan mentah” yang akan dicetak menjadi generasi muda yang berkualitas.

Disinilah peran semua pihak yang telibat sangat menentukan. Bukan hanya an sich pemerintah atau guru akan tetapi semua pihak berkepentingan dalam proses pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dari sebuah bangsa.

Jika proses tadi berjalan sendiri – sendiri, niscaya outcome yang terjadi akan pincang. Seperti yang terjadi, pemerintah seakan menyalahkan masyarakat yang dianggap turut dalam pembentukan budaya kekerasan. Di lain pihak, masyarakat menuntut pemerintah lebih ikut campur tanpa melihat betapa beban pemerintah sendiri sudah terlalu banyak.

Seandainya setiap pihak berjalan beriringan menuju visi yang digagas pendiri bangsa ini, niscaya korban tawuran pelajar yang terjadi akan berhenti disini.

Courtesy foto: http://metro.news.viva.co.idAdd your thoughts here… (optional)

Sutriadi's Log

Hangat dibicarakan mengenai wacana penghapusan mata pelajaran IPA-IPS di sekolah dasar. Selanjutnya dikonfirmasi bahwa pelajaran tersebut tidak dihapus, namun digabung menjadi IPU (Ilmu Pengetahuan Umum). Kabar-kabar yang beredar hal ini merupakan ekses negatif dari tawuran yang kemarin memakan korban. Nah loe….

Walaupun benang merah dari peristiwa dan wacana di atas tidak nampak –mungkin hanya berupa benang abu-abu– tapi saya melihat wacana lain. Patokan saya adalah peringkat FIFA dari seluruh negara yang ditentukan dari prestasi setiap tim nasional per negara. Bikin saja peringkat seluruh sekolah per tingkat. Dalam hal ini Depdiknas yang berfungsi sebagai ‘FIFA’. Setiap prestasi sekolah menentukan naik atau turunnya peringkat. Jangan lupa, bila ada hal yang dinilai merusak prestasi, ‘FIFA’ bisa saja menghukum dengan menurunkan peringkat ke urutan paling bawah. Dengan hukuman tambahan, misalnya: sekolah tersebut tidak bisa mengikuti seluruh kegiatan atau kompetisi dalam skup rayon hingga internasional selama waktu yang ditentukan; tidak boleh menerima siswa baru…

Lihat pos aslinya 285 kata lagi

Add your thoughts here… (optional)Tawuran: Kemana Pendidikan Mengarah
28 Sep

image

Berapa hari ini, berita pendidikan diwarnai dengan kabar tawuran antar pelajar sekolah menengah. Tak tanggung – tangggung korban jiwa melayang sia – sia. bahkan, pelajar sekolah yang notabene dianggap sebagai sekolah favorit melakukan penyerangan terhadap sekolah di sekitarnya hingga menimbulkan korban jiwa.

Pertanyaan mendasar seputar pendidikan kembali menyeruak ke permukaan, adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apakah sistem pendidikan yang ada sekarang hanya mencetak dan melahirkan “preman – preman” berbalut kepintaran akademis semata?

Sejak lama, bahkan hingga menteri pendidikan berganti, departemen pendidikan berganti nama sekalipun, pertanyaan tadi masih menggelayut di benak setiap orang di negeri ini yang mencermati dan berharap dari pendidikan akan lahir generasi – generasi muda yang kelak akan memikul beban berat bangsa ini.

Mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana hingga ujian, seakan pendidikan selalu dibelit problematika yang kenal ujung pangkal.

Guru, sebagai garda terdepan pendidikan, dimana saat ini dituntut untuk melakukan sertifikasi, di beberapa daerah sempat menemui hambatan. Bahkan dari pihak pengajar sendiri.

Mungkin kita letih jika dibandingkan dengan Jepang, Korea atau Cina. Terlalu sering kita dibandingkan bagaimana Jepang yang terpuruk setelah PD II mampu bangkit kembali setelah bersusah payah membangun sistem pendidikannya. Begitu juga Korea Selatan. Pun, demikian juga Cina. Setelah sekian lama terkungkung dengan ideoligi komunisnya yang menutup diri dari perkembangan dunia luar, sekarang Cina mampu melejit dan sejajar dengan negara – negara lain yang telah lebih dulu maju di kawasan Asia.

Lalu, dimana posisi kita? Indeks pembangunan manusia kita yang masih tersungkur di papan bawah seakan menjadi cerminan, betapa pendidikan hanyalah sebuah sektor yang dipandang sebelah mata jika dibandingkan pembangunan infrastruktur yang langsung terlihat hasilnya.

Pendidikan bukanlah pembangunan sekejap yang langsung terasa hasilnya laksana pembangunan Candi Prambanan yang jadi hanya dalam semalam melainkan sebuah proses panjang yang menutut komitmen dari semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang amanat konstitusi, guru sebagai garis depan, serta tak kalah pentingnya, peran dari masyarakat dan orang tua dalam menyiapkan “bahan mentah” yang akan dicetak menjadi generasi muda yang berkualitas.

Disinilah peran semua pihak yang telibat sangat menentukan. Bukan hanya an sich pemerintah atau guru akan tetapi semua pihak berkepentingan dalam proses pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dari sebuah bangsa.

Jika proses tadi berjalan sendiri – sendiri, niscaya outcome yang terjadi akan pincang. Seperti yang terjadi, pemerintah seakan menyalahkan masyarakat yang dianggap turut dalam pembentukan budaya kekerasan. Di lain pihak, masyarakat menuntut pemerintah lebih ikut campur tanpa melihat betapa beban pemerintah sendiri sudah terlalu banyak.

Seandainya setiap pihak berjalan beriringan menuju visi yang digagas pendiri bangsa ini, niscaya korban tawuran pelajar yang terjadi akan berhenti disini.

Courtesy foto: http://metro.news.viva.co.id

Angkringan Maya

image

Berapa hari ini, berita pendidikan diwarnai dengan kabar tawuran antar pelajar sekolah menengah. Tak tanggung – tangggung korban jiwa melayang sia – sia. bahkan, pelajar sekolah yang notabene dianggap sebagai sekolah favorit melakukan penyerangan terhadap sekolah di sekitarnya hingga menimbulkan korban jiwa.

Lihat pos aslinya 380 kata lagi

PT KAI siapkan tambahan rangkaian kereta

PT KAI Siapkan 58 Rangkaian Kereta Dalam Menyambut Mudik Lebaran

Prins David Saut – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Jakarta Kereta api menjadi salah satu transportasi mudik favorit masyarakat ibukota. Pihak PT KAI sendiri menyiapkan 58 rangkaian kereta dalam mengantarkan warga ibukota pulang ke kampung halaman mereka di pulau Jawa.

“Kita siapkan rangkaian kereta reguler sebanyak 48 dan 10 rangkaian tambahan,” kata Kepala Humas PT KAI DAOPS I, Mateta Rizalulhaq, kepada detikcom, Sabtu (21/7/2012).

48 rangkaian tersebut berarti 21.452 kursi yang telah disiapkan, sedangkan 10 rangkaian tambahan berarti 6427 kursi tambahan. Namun PT KAI memperkirakan jumlah pemudik yang akan menggunakan jasa kereta api adalah sekitar 28.000 orang.

“Kursinya sekitar 21.452 dan tambahannya berkapasitas 6.427 kursi. Perkiraan kita jumlah calon penumpang sekitar 28.000 orang,” papar Mateta.

Namun pihak PT KAI tidak akan menjual tiket kereta mudik mulai H-5 hingga H+3 lebaran. Hal ini dikarenakan tiket dengan tujuan seluruh pulau Jawa hampir habis terjual dan PT KAI tidak menjual tiket tanpa tempat duduk.

“Kita tidak menjual tiket tanpa tempat duduk, prioritas kita menjual tiket sesuai kapasitas, dan penjualan tiket bisa dibeli 90 hari dari hari keberangkatan,” papar Mateta.

Mateta meminta para pemudik yang hendak menggunakan kereta api agar tidak memaksa mudik menggunakan kereta api jika tidak memiliki tiket. Ia juga menyampaikan tiket mudik kereta api tahun ini tidak bisa dibeli pas pemudik hendak berangkat.

“Karena kereta api itu angkutan terbatas, pada hari H calon penumpang yang tidak kebagian tiket tidak usah memaksakan. Kalau dulu bisa beli dadakan, tapi sekarang tidak bisa,” ungkap Mateta.

Mateta menjelaskan tiket untuk keberangkatan tanggal 16 Juli hingga 18 Juli sendiri sudah habis. Para calon penumpang saat ini banyak yang memesan untuk tanggal sebelumnya, namun untuk beberapa tujuan juga telah habis.

“Untuk keberangkatan tanggal 16, 17, dan 18 Juli sudah habis, sekarang mereka bergeser tanggal 15 Juli dan 14 Juli. Cuma untuk tujuan seperti Surabaya dan Jogja pada tanggal 14-15 Juli juga sudah tinggi ya,” tutup Mateta)

Sumber : detikNews.com